Menjadi Suami Idaman

0
22

Pengantar Redaksi:

Setiap pria tentu menginginkan dirinya mampu menjadi suami idaman. Demikian juga seorang istri, tentu sangat mendambakan memiliki suami yang diidam-idamkan. Bagaimana untuk meraihnya? Ikuti paparan berikut ini. Semoga bermanfaat.

Dari Ibnu Abbas dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku” [HR. At Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977)

Hadits mengajarkan kepada para suami bahwa orang yang paling tinggi derajatnya dalam kebaikan dan paling berhak meraih sifat mulia layaknya sifat nabi ialah, orang-orang yang paling baik perilakunya kepada keluarganya. Sebab, keluarga, mereka itu merupakan orang-orang yang paling berhak di sediakan  wajah manis, dan   muasyarah (bergaul yang baik). Suami yang demikian, niscaya ia berpredikat sebagai manusia yang terbaik.

Jika suami tersebut bersikap sebaliknya, maka ia berada dalam keburukan. Banyak orang yang terjerumus dalam keteledoran. Anda bisa menyaksikan seorang lelaki, bila ia menjumpai keluarganya, maka menjadi sosok yang akhlaknya buruk, dingin, mengkerut, pelit, kikir, bakhil dalam segala hal.

Tetapi, apabila bersama orang lain, ia altruis, murah senyum, akhlaknya melunak, jiwanya menjadi dermawan, ringan tangan, sangat akrab dengan rekan-sejawat, dan seterusnya. Tidak diragukan, laki-laki semacam ini adalah manusia yang terhalang dari hidayah-taufik Allah, menyimpang dari jalan yang lurus, terburuk dimuka bumi bagi anak dan isterinya. Padahal, semestinya, pihak yang paling pantas menerima kebaikan maupun kelembutannya adalah keluarganya.

Pepatah mengatakan, al aqrabin aula bil ma’ruf. Artinya, kaum kerabat paling utama menerima kebaikan.

Jadi, keluarga harus disikapi dengan penuh kasih sayang, kontrol yang baik, sabar terhadap kesalahan dan kekeliruan mereka, serta berusaha mengoreksi kesalahan dengan cara elegan, penuh hikmah, sebagaimana yang ia tunjukkan kepada orang lain di luar rumah.

Dari jalur lain Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa sallam  bersabda

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya”. (HR At-Thirmidzi no 1162 dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Majah no 1987 dari hadits Abdullah bin ‘Amr, hadits sahih  (lihat As-Shahihah no 284)

Imam Malik berkata, “Wajib bagi seorang suami berusaha untuk menjadikan dirinya dicintai oleh istri-istrinya hingga ialah yang menjadi orang yang paling mereka cintai” (Faidhul Qodiir III/496,  Al-Munawi berkata, “Di kitab Tadzkiroh Ibnu ‘Irooq.)

Karena istri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan mulia, akhlak yang baik, perbuatan baik, pemberian manfaat dan penolakan kemudhorotan. Jika seorang lelaki bersikap demikian maka dia adalah orang yang terbaik, namun jika keadaannya adalah sebaliknya maka dia telah berada di sisi yang lain yaitu sisi keburukan.

Suami yang baik di keluarga nya akan mendapatkan taufiq dan Hidayah Allah,  seluruh amalan menjadi sholeh hingga jadilah ia terbaik secara mutlaq” (Sebagaimana dinukil oleh Syaikh Abdul Malik Romadhoni dalam Al-Mau’idzoh Al-Hasanah hal 75)

Firman Allah Subhanahu wa Taala yang berkaitan dengan tema hadits tersebut adalah

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (الروم : 21

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS.30:21)

Jika sang istri benar-benar menjadi istri yang shalihah yang menjalankan tugas rumah tangganya dengan baik, demikian juga sang suami benar-benar merupakan suami yang sejati yang menunaikan tugasnya dengan baik. Maka tidak diragukan lagi janji Allah, bahwasanya Sakinah Mawadah wa Rahmah akan selalu menyertai.

Sumber: Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here