Tampang Bonek, Nyali Hello Kitty

0
30

[dropcap]B[/dropcap]agaimana jadinya kalau anak baru gede (ABG) harus mengikuti imunisasi difteri? Ada saja tingkah dan kisah lucu  yang terjadi, sehingga membuat petugas dan pendamping yang menangani harus melepas tawa atau minimal senyum. Ini tentu beda banget dengan imunisasi dengan pasien anak/bayi di bawah lima tahun (balita) yang biasanya nurut meski diwarnai tangisan.

Inilah pemandangan yang bisa disaksikan ketika siswa-siswa SMP Muhammadiyah (SMPM) 4 Kebomas, Gresik harus menjalani imunisasi difteri, Senin (12/3/2018) lalu. Siswa SMP yang identik dengan ABG atau remaja dalam keseharian biasanya selalu tampil ceria, genit, suka jahili teman, dan terkadang konyol. Namun, ketika harus menghadapi tajamnya jarum suntik, sontak sebagian mereka mengkeret ketakutan. Bahkan, tak jarang ada yang menangis ketika jarum suntik itu mulai menancap di lengan atasnya.

“Walah …walah. Tampang saja kayak Bonek, tapi nyalinya Hello Kitty,” gumam beberapa siswa sambil cekikikan, menyaksikan temannya yang ketakutan ketika mau disuntik.

Dari 165 total siswa SMPM 4 (kelas 7-9) yang mengikuti imunisasi difteri, petugas Puskesmas Kebomas dan beberapa guru pendamping memang dibuat kewalahan dan tak jarang menahan tawa meyaksikan tingkah sebagian dari mereka. Betapa tidak. Beberapa anak yang biasanya tampak temperamen (bertampang Bonek, Red.), ternyata takut setengah mati begitu mendapat giliran untuk disuntik. Ada yang sembunyi atau lari ketika namanya dipanggil.

Dan, yang bikin petugas mesti menahan tawa atau senyum adalah menyaksikan wajah siswa pucat pasi begitu jarum siap ditancapkan ke lengan atas mereka. Bahkan ada pula yang menangis. Ini yang kemudian menjadi bahan gojlokan teman-temannya dengan melabeli ‘tampang Bonek, nyali Hello Kitty’.

Menurut Kepala SMPM 4 Kebomas, Nung Muawanah, selain sudah menjadi program pemerintah, imunisasi difteri memberikan manfaat bagi setiap siswa. Sebab, kata Bu Nung mengutip petugas Dinas Kesehatan, difteri merupakan penyakit infeksi akut yang menular dan bisa mengancam nyawa jika tidak segera ditangani. Difteri biasanya menyerang tenggorokan, hidung, terkadang pada kulit dan telinga.

Gejala yang bisa dikenali pada penderita difteri,  tergantung di mana bakteri itu berkembang biak. Oleh karena itu, serangan difteri dapat dicegah dengan pemberian imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus) yang diberikan sejak anak berusia dua bulan hingga 18 tahun. (Erna Hidayati)

 

*) Kontributor: Erna Hidayati, guru SMP Muhammadiyah 4 Kebomas, Gresik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here