Imam Poeri dan Sebentuk Pengabdian yang Terpatri

0
48
                             Imam Poeri (kanan) bersama penulis.

Namanya Imam Poeri. Cukup singkat, mudah dilafalkan, dan familiar di pendengaran. Pria kelahiran Tuban ini sudah tidaklah tergolong muda lagi. Usianya memasuki 72 tahun. Kesepuhannya juga diperkuat oleh beberapa penanda fisik. Di antaranya: rambutnya yang sudah memutih, sejumlah giginya yang telah tanggal dari tempatnya menancap, juga guratan di wajah dan beberapa bagian tubuhnya. Semuanya menandai, bahwa bapak dua anak dan kakek empat cucu ini tak bisa lagi dibilang muda, apalagi seperti pemuda zaman now.

Dilahirkan di Tuban, 5 November 1947, Romo Imam, demikian saya biasa menyapa, kehidupannya nyaris tak lepas dari dunia pendidikan. Sejak 1969, ia mengabdikan diri sebagai guru di SD dan SMA Semen Gresik. Pria bersahaja ini juga termasuk salah seorang sesepuh dan perintis berdiri dan eksisnya SMP Muhammadiyah 4 Kebomas, Gresik, yang juga mengampu sebagai guru pelajaran Bahasa Indonesia, serta peletak dasar danpenggerak kepramukaan ketika Hizbul Wathan (HW) belum berdiri. Hingga kini pun kepedulian terhadap kepanduan ia tunjukkan dengan terus ikut mengawal perkembangan HW di Gresik..

Pengabdian sebagai pahlawan tanpa tanda jasa ini ia lakoni hingga 1993. Namun, pensiun atau purna bakti sebagai guru tak membuatnya surut dalam mengabdi pada dunia pendidikan.Dalam 15 tahun terakhir ini, Romo Imam terus bergelut dengan pengelolaan lembaga pendidikan melalui ladang pengabdiannya di persyarikatan Muhammadiyah. Selama tiga periode berturut-turut, pria murah senyum ini Istiqomah (konsisten) di jalur pendidikan. Di Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebomas, ia pernah menduduki posisi Wakil Ketua, Ketua, dan kini Sekretaris.

Gemar Sastra

Ya, sosok dan sepak terjang Imam Poeri memang tak bisa lepas dari dunia pendidikan. Pengalaman sebagai guru Bahasa Indonesia juga mendekatkan dirinya dengan sastra. Ia pernah terlibat dalam komunitas Cager yang banyak menggeluti teater/drama dan puisi. Dan, hingga kini pun, di tengah pengabdiannya di persyarikatan Muhammadiyah, ia masih produktif menulis dan menerbitkan puisi.

Maka tidak heran, dalam milad ke-43 dan Reuni Akbar SMP Muhamadiyah 4, Sabtu (5/1/2019), ia didapuk untuk membaca puisi di hadapan ratusan undangan yang membludak di halaman sekolah di kawasan Giri, Kebomas ini. Protes kecil sempat ia lontarkan kepada panitia. Sebab, dalam rundown acara, tidak disebutkan ada agenda membaca puisi. Tetapi, kecintaannya kepada SMP yang sempat menjadi ladang pengabdiannya sebagai guru, mematahkan protes penolakannya.

“Baiklah, karena panitia ngotot minta saya membaca puisi, saya siap dan coba melakukannya. Tapi.mohon maaf, tampilan saya tidak bisa seperti penyair beneran atau orator yang berapi-api dalam berpidato. Bismillah ….,” ujarnya mengawali pengantar sebelum membaca puisi.

Di sinilah kekaguman tidak bisa saya sembunyikan kepada Romo Imam. Meski perawakannya kecil mungil, tetapi tampilan baca puisinya sungguh power full, membuat saya dan ratusan undangan yang hadir seolah tersihir untuk menyimak kata demi kata yang meluncur lewat bibirnya.

Meski telah kehilangan sejumlah gigi karena faktor U (baca: usia), artikulasi dan intonasi, disertai mimik wajah sebagai wujud penghayatan puisi, mampu menampilkan suguhan yang apik dan maknyuuuuusss untuk dinikmati. Dua judul puisi yang sarat kritik sosial ia bacakan sekaligus dengan penampilan prima. Keduanya adalah ‘Penguasa Palsu’ karya Desyema Depa dan ‘Ayat-ayat Alam’ buah tangan Ahmadin Yosi Berganda.

“…. Kami …

Rakyat Kecil masih menanti

Sadarnya dirimu atas perbudakan teori

Omong kosong tanpa ada bukti

Berteriak sana sini

Lalu esok kau tinggal pergi

Dan lusa kau tak lagi perduli

 

Kapan kau tak tuli

Bisa dengar rintihan hati kami

Kapan kau tak buta hati

Bisa lihat duka seisi negeri ….”

 

Itulah sebagian bait puisi yang ia bacakan dengan penuh penghayatan dan menjadi suguhan yang benar-benar bisa dinikmati.

Romo Imam Poeri ….

Usia boleh tua

Rambut boleh memutih

Kulit boleh juga keriput

Gigi pun boleh tanggal hingga tampak ompong

Tetapi, semangat dan nyali mengabdi

Tetaplah terpatri mati

Untuk mengantarkan sukses dan tegak berdirinya anak-anak negeri. (Suhartoko)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here