Menggambar; Potensi Dasar Anak yang Kerap Terjajah Rezim Logika

0
43

Menggambar merupakan bahasa ekspresi anak. (Foto ilustrasi: Google.com)

Oleh ADRIONO

Gambar merupakan bahasa bagi anak. Oleh sebab itu, di manapun di dunia ini anak selalu suka menggambar. Sebelum anak mengenal tulisan, maka bahasa komunikasi, kegembiraan, dan keinginannya dia ekspresikan dalam wujud coretan gambar.

Namun –ini yang menyedihkan– potensi alami ini secara berangsur-angsur terkikis justru setelah anak mengenal bangku sekolah. Setelah mengenal bahasa tulis, anak jadi tak lagi berekspresi lewat bahasa rupa. Makin tinggi kelas di sekolah, anak makin enggan menggambar.

Bahkan ketika menginjak sekolah lanjutan, anak sudah memvonis dirinya secara negatif: “Saya tidak bakat menggambar.” Ini kenyataan yang patut disayangkan. Berarti ada yang tidak beres dalam sistem pendidikan kita, hingga banyak potensi alami anak jadi termatikan.

Prof Dr H Primadi Tabrani, Guru Besar Seni Rupa ITB, termasuk salah seorang yang amat menyesalkan kenyataan itu. Ia amat yakin, bahwa setiap anak diberi anugerah potensi. Sayang anugerah Tuhan itu cenderung disepelekan oleh sistem pendidikan yang salah.

“Anak-anak kita banyak terjajah oleh rezim logika, dan rezim kata-kata secara bertahun-tahun. Akibatnya potensi anak macet. Bahasa rupa dan kreativitas anak –juga mahasiwa– jadi tumpul. Padahal kekuatan anak itu ada pada imajinasinya,” ujarnya berapi-api.

“Rezim” logika yang begitu menancap, membuat semua guru mengajar menggambar dengan kerangka berpikir yang naturalistis-logis ala Barat. Anak disuruh menggambar persis dengan contoh aslinya. Kalau menggambar gedung harus persegi dengan perspektif yang benar seperti layaknya gambaran arsitektur bangunan. Kalau mewarna daun ya harus hijau, laut harus biru. Seluruh bidang gambar harus diblok warna. Awas…! Yang rapi, jangan sampai keluar garis lho.

Padahal, bahasa gambar anak sungguh lain. Anak sesungguhnya tidak ingin menggambar wujud atau sosok suatu benda. Ia tidak berpretensi menduplikasi objek atau meniru benda-benda alam. Yang digambar anak itu gerak. Gambar anak adalah gambar bergerak dan hidup. Orang tua jangan heran kalau melihat anak menggambar ayam yang sama sampai tiga kali. Ini karena dia ingin menceritakan ayam itu berjalan dari satu tempat ke tempat lain.

“Sesungguhnya anak menggambar bukan untuk keindahan (seperti manusia dewasa), tetapi untuk bercerita dengan bahasa-rupa, karena bahasa-kata belum dikuasai sepenuhnya. Maka bagi anak yang penting proses menggambarnya bukan hasil akhirnya,” katanya.

Anak juga tak peduli logika perspektif: bahwa yang jauh itu kecil, yang dekat itu besar. Baginya yang digambar besar itulah fokus perhatian utama, sedangkan yang digambar kecil berarti tidak begitu penting baginya. Maka tak aneh jika ada anak menggambar penari barong, barongnya dibuat gede sekali, sementara penontonnya digambar kecil-kecil.

Anak juga biasa menggambar dengan cara gambar sinar X. Maksudnya, anak bisa saja menggambar rumah dengan meja kursi dan orang makan yang kelihatan tembus dari luar. Ini sah-sah saja. Sebab begitulah kerangka berpikir anak.

Anak tidak berkilah, bahwa rumahnya terbuat dari kaca tembus pandang, tetapi dia hanya ingin menceritakan aktivitas dia di dalam rumahnya. Jadi, semua kelihatan dan bisa diceritakan. Seakan penonton diajak bertandang ke tempat tinggalnya.

Sekali lagi, bagi anak gambar adalah bahasa rupa, bukan sekadar peniruan alam. Itulah sebabnya bila anak sedang larut menggambar pertempuran sudah pasti mulutnya nerocos menyuarakan dentuman meriam dan serunya pertempuran itu. Badannya bergerak aktif, sekali-sekali berlari berputar meninggalkan kertas gambarnya demi untuk mendemostrasikan manuver jet tempur.

Oleh karena itu, jangan menilai gambar anak dengan kacamata orang dewasa, sebab kita telah kehilangan kemampuan untuk “membaca” bahasa rupa anak. Kalau kita mengajar, sedang kita “lupa” bahasa-rupa anak, maka kita akan membunuh gairah menggambar mereka, serta menghambat perkembangan kreativitasnya. Hal itu mengurangi ketahanan kita sebagai bangsa. Bangsa yang tidak kreatif akan tertinggal dalam persaingan di era global ini.

Lalu bagaimana cara yang tepat menilai gambar anak? Sang Profesor punya satu kiat sederhana. Ajaklah anak-anak ke kebun binatang, lalu minta mereka membuat dua atau tiga gambar. Kemudian minta setiap anak tadi menyusun gambarnya sendiri dari yang dia anggap paling baik hingga yang kurang baik.

“Perhatikan dan pelajari, lama-lama kita akan tahu gambar seperti apa yang dianggap baik dari kacamata anak-anak sendiri.”

*) Penulis adalah mantan wartawan Surabaya Post, pegiat literasi, tinggal di Sidoarjo

**) Tulisan ini termuat dalam buku “Sukses Melejitkan Potensi Anak Didik” terbitan MLC (Mizan Learning Centre) Bandung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here