Kebijakan Zonasi dan Emosi Massa

0
21

Oleh SUYATNO

Prof Dr Suyatno, MPd

Penerapan kebijakan zonasi terkait proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) akhir-akhir ini telah mengaduk-aduk emosi para orang tua, guru, kepala sekolah, dan para pejabat di berbagai daerah di Indonesia. Kontroversi dukungan dan penolakan pun sekaligus memenuhi ruang publik.

Itu terjadi karena terjadi pemutusan kebiasaan dan logika nyaman yang ada selama ini. Padahal, kebiasaan dan logika nyaman sudah mendarah daging dan tercampur mitos dan fakta. Ibarat air tenang di ember, lalu diaduk dengan pola lain.

Sejak dahulu, ketika negara ini berdiri, zonasi sebenarnya sudah diterapkan. Buktinya, terdapat sekolah di tiap proviinsi, di tiap kabupaten, bahkan di tiap kecamatan. Itu niat yang diterapkan negara untuk pemerataan melalui zonasi.

Lalu, dalam perkembangannya, ada pemeringkatan sekolah baik berdasarkan nilai siswa, sarana, manajemen, dan sebagainya untuk kepentingan ukuran dan lomba. Pada gilirannya, muncullah sekolah unggul dan kurang unggul, sekolah standar nasional dan nonstandar, sekolah hebat dan sekolah lunglai, sekolah favorit dan sekolah takdikenal. Sekolah harus menghadapi cap keunggulan. Cap keunggulan tersebut pada akhirnya menjadi kebiasaan atau membentuk logika nyaman.

Jika sekolah sudah berbasis kurikulum yang sama, guru dengan kualifikasi sama, dan model persekolahan yang sama, seharusnya mempunyai daya hasil yang sama. Kesamaan itu adalah setiap sekolah akan menghasilkan siswa yang berprestasi di mana pun tempat sekolah itu berada.

Andaikata sekolah yang satu minim prestasi lalu sekolah lain banjir prestasi, tentu ada yang salah dalam pengelolaanya. Titik kesalahan itulah yang harus diperbaiki. Peran pengawas –dalam hal itu– sangatlah penting.

Sistem zonasi sangat tepat. Sistem itu menukik pada hak dasar bersekolah bagi anak. Anak bernilai baik dan buruk mempunyai kesempatan yang sama. Bukankah semua anak berpotensi?

Perkara nilai tinggi dan rendah bergantung pada daya gesek dan daya asuh guru. Di mana pun siswa belajar, dia dapat menjadi brilian jika diasuh, diasah, dan diasih dengan tepat dan baik. Di situlah peran guru dan kepiawaian kepala sekolah diuji.

Sistem Zonasi sampai ke tingkat persekolahan seperti kebijakan saat ini menuntut logika loncatan. Sekolah yang sebelumnya nyaman sebagai sekolah senyap mulai ditantang untuk unggul. Sebaliknya, sekolah yang sebelumnya unggul karena input siswa yang juga unggul dituntut untuk pembuktian kepada siswa yang bernilai rendah.

Cara yang perlu ditempuh agar semua sekolah dapat unggul, meski sebelumnya dianggap sekolah pupuk bawang adalah, pertama, adakan refleksi semua tenaga pendidik dan kependidikan untuk menemukan titik awal bersikap dan bertindak melayani siswa baru.

Kedua, adakan pelatihan teknis untuk menerapkan langkah praktis yang jitu. Ketiga, buang mitos cap sekolah pupuk bawang menjadi sekolah cap unggul. Keempat, ganti emosi marah, kesal, dan sumpah serapah dengan berpikir positif. Kelima, ajak orang tua untuk turut berbahagia dalam mengelola sekolah. Keenam, anggap siswa yang ada adalah butiran emas yang perlu diasah hingga lebih cemerlang alias kinclong.

Zonasi dan emosi harus diubah menjadi zonasi dan prestasi. Ini waktu untuk membuktikan, bahwa semua sekolah adalah sama. Ini juga waktu untuk membuktikan, bahwa sekolah dapat menjadi unggul di mana pun berada. (*)

*) Penulis adalah motivator pendidikan dan Guru Besar di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya (Unesa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here