Dr Ngainun: Jadi Penulis itu Mudah

0
14
Dr Ngainun Naim saat memberikan tips dan trik menulis di Pesantren Rakyat Al-Amin Sumberpucung, Malang. (Foto: Sigit Priatmoko)

Banyak orang mengikuti berbagai pelatihan menulis, namun tak satu pun buku dihasilkan. Penyebab utamanya tak lain, karena sepulang dari pelatihant,tak ada tindak lanjut dari yang bersangkutan. Ilmu kepenulisan yang didapat selama pelatihan menguap dan hilang entah ke mana. Bagaimana membongkar permasalahan laten ini?

Tak sedikit orang yang bertanya bagaimana tips dan trik menjadi penulis best seller yang karya-karyanya dibaca banyak orang. Tapi anehnya, begitu disodorkan tantangan untuk mulai menulis, mereka ogah-ogahan. Akibatnya, tetap saja tak ada satu karya pun yang dihasilkan. Menulis tetap menjadi hal yang sulit, bahkan mustahil bagi mereka.

Problem ini dibongkar Dr Ngainun Naim selama dua hari, Sabtu-Minggu (31/8-1/9/2019) di Pesantren Rakyat Al-Amin Sumberpucung, Malang. Ketua LP2M IAIN Tulungagung ini mengajak para peserta Sekolah Jurnalistik terlebih dahulu menyelesaikan permasalahan diri yang kerap menjadi hambatan dalam menulis.

Dengan diselingi guyonan khasnya, ia menuturkan, bahwa ada empat permasalahan pokok yang dihadapi oleh orang yang belajar menulis. Pertama, problem psikologis. Masalah itu, misalnya berupa perasaan malu, takut, dan khawatir saat tulisan dibaca orang lain, lalu mendapat ejekan, kritik, dan saran.

“Jangan mikir apa yang mau ditulis. Tapi tulislah apa yang ada di pikiran. Seharusnya jika kita berbicara lancar, maka menulis juga harus lancar,” ujar Ngainun Naim.

Kedua, bingung mau nulis apa. Sebagian besar orang sibuk memikirkan ide dulu, baru setelah itu menulis. “Ini namanya kebalik. Doktor alumni UIN Yogyakarta ini menyarankan, jangan memikirkan apa yang mau ditulis. Tetapi, tulislah apa yang ada di pikiran.

Ketiga, mindset (setting pikiran). Misalnya anggapan menulis itu sulit. Ketika minset yang terbangun seperti itu, maka Anda akan menganggap bahwa menulis itu tidak mungkin untuk dilakukan. Jika itu yang terjadi, jangan berharap Anda bisa menulis secara maksimal.

“Umumnya orang berkata, ‘Aku ra bakat nulis’. Menulis itu gampang. Yakinkan dalam diri, ubah pikiran negatif itu ke postif. Jika ada orang berkomentar jelek, yakinlah bahwa dia bukan penulis. Komentator itu cirinya kalau ngoncek’i pinter, tapi kalau praktik sendiri nggak bisa,” ujarnya.

Keempat, jam terbang. Menulis itu keterampilan. Jika mau terampil, maka harus terus diasah melalui berlatih dan berlatih.Mengapa menulis terasa sulit? Karena belum terbiasa, belum punya jam terbang. Semakin sering Anda menulis, maka akan semakin terampil.

“Mengapa supir bus bisa lihai? Karena jam terbangnya tinggi. Begitupun menulis. Mengapa menulis terasa sulit? Karena belum terbiasa, belum punya jam terbang. Semakin sering Anda menulis, maka akan semakin terampil. Menulis jangan seperti kerja rodi. Langsung tiga jam non-stop. Yang penting istikamah,” tandas Ngainun.

Untuk mengatasi semua permasalahan tersebut, yang diperlukan adalah komitmen. Komitmen untuk terus belajar menulis. Selanjutnya, Ngainun memberikan empat tips mudah menulis bagi pemula. Pertama, carilah ide yang menarik di pikiran Anda. Biasanya, setiap disuruh menulis, orang selalu muncul pertanyaan: menulis apa? Ya apa-apa bisa ditulis. Teman sekitar, sekolah, tugas, dan sebagainya.

Kedua, ikat ide itu. Buatlah catatan tentang ide yang muncul. Ide itu kuncinya segera ditulis, jangan dibiarkan, nanti hilang. Kalau mau menulis, modalnya rajin mencatat apa pun. Jangan berpikir soal uang. Yang penting punya tulisan dulu, terkenal itu mengikuti.

Ketiga, hilangkan rasa takut, malu, atau khawatir tidak sesuai ejaan. Ketika menulis, tulis saja jangan dibaca, tulis terus apa yang ada di pikiran. Setelah itu diamkan. Jangan menulis sambil ngedit. Jangan menulis sambil dibaca. Nulis adalah nulis.

Keempat, edit tulisan itu. Kapan ngeditnya? Tidak harus seketika setelah menulis. Ngedit itu, kata Ngainun, waktunya harus terpisah dengan menulis. Peserta kemudian diberi tugas menuliskan tentang Pesantren Rakyat Al-Amin sesuai dengan ide yang ada di dalam otak masing-masing. Tulisan peserta akan dicetak ke dalam buku antologi. (Sigit Priatmoko/kampusdesa.or.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here